Trenggalek -Kedatangan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman di Desa Masaran, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur disambut sumringah para petani.
Kawasan yang dikunjungi Amran ini termasuk kawasan yang terpelosok. Butuh perjalanan darat dengan medan berat menuju lokasi yang ditempuh selama 2 jam dari pusat Kabupaten Trenggalek.
Medan berliku membelah bukit sesekali melintasi lahan sawah subur yang tengah panen di tengah perbukitan. Jalan berbatu belum teraspal mendominasi perjalanan yang dilintasi. Tak heran tak banyak pejabat pemerintah pusat yang menginjakan kakinya di sentra padi dan kedelai ini.
Seorang petani di Desa Masaran mengungkapkan rasa gembiranya bisa ditengok oleh pejabat setingkat menteri.
"Kami sangat gembira, pertama kali ada pejabat pusat setingkat menteri datang kemari. Selama ini kami serasa terisolir karena jalan buruk. Pak menteri bisa sampai sini, kami sangat berapi-api. Lumbung pangan untuk kecamatan Munjungan, cukup," kata petani tersebut di sela-sela panen padi di lokasi, Rabu (29/7/2015).
Rasa terima kasih petani tersebut dieksperikan dengan memeluk sang menteri. Melihat begitu antusiasya petani, Amran pun memberikan kenang-kenangan kepada sang petani tersebut.
Di tempat yang sama Pangdam V Brawijaya Eko Wiratmoko menyampaikan kesannya terhadap kerjasama antara TNI dan kementerian pertanian, untuk meningkatkan produksi pangan.
"Sinergi TNI dengan kementerian pertanian telah membuahkan hasil peningkatan produksi di seluruh wilayah Indonesia," kata Eko.
Eko mengatakan, masalah pangan telah menjadi perhatian khusus Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan swasembada pangan dalam 3 tahun ke depan.
"Kami turut mendukung melalui peran Babinsa (Bintara Pembina Desa) demi tercapai ketahanan pangan," katanya.
Berita Trenggalek
Thursday, August 6, 2015
Balon Udara Jatuh Aliran Listrik Trenggalek Padam
Trenggalek - Sebuah balon udara atau balon asap berukuran besar yang dilepas warga saat perayaan Lebaran Ketupat di Trenggalek, Jawa Timur, jatuh mengenai jaringan PLN sehingga aliran listrik setempat padam selama beberapa jam.
"Ada satu balon udara yang jatuh tepat di atas jaringan kabel listrik PLN di wilayah Durenan sehingga terjadi korsleting dan aliran energinya terputus beberapa saat," kata Kepala PLN Unit Pelayanan Jaringan Trenggalek, Tarwoko di Trenggalek, Jumat.
Meski sempat menyebabkan arus listrik terputus dan mengganggu perayaan Lebaran Ketupat di wilayah Durenan, Tarwoko memastikan insiden itu tidak sampai menimbulkan kerusakan berarti.
Petugas yang mendapat laporan dari warga tentang putusnya jaringan listrik di aerah itu segera melakukan langkah penanganan dengan menyingkirkan balon udara yang masih tersangkut di atas jaringan kabel PLN di jalan raya Durenan.
"Jaringan listrik di daerah itu sebenarnya masuk area UPJ Campurdarat, tapi sudah kami koordinasikan dan satu jam kemudian sudah kembali normal," ujarnya.
Sejak pagi selama perayaan Lebaran Ketupat di Trenggalek, total ada seribu balon udara yang dilepas warga secara sporadis di berbagai wilayah tersebut.
Banyaknya balon udara yang dilepas sempat memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko kebakaran di area hutan, ladang ataupun permukiman warga.
Kekhawatiran itu terutama mengacu pada pengalaman tahun sebelumnya pada momentum yang sama di mana sempat terjadi kebakaran hutan akibat balon udara yang jatuh di tengah hutan.
"Secara teori hal itu harusnya tidak akan terjadi karena balon udara masih akan melayang hingga api padam. Jadi balon tersebut jatuh dengan kondisi api sudah mati, sebab yang mengangkat balon itu adalah asap yang memenuhi ruang dalam balon," jelas panitia atraksi pelepasan 50 balon udara di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, Sunardi.
Seperti halnya saat perayaan Idul Fitri, pesta balon udara dimaksudkan untuk menciptakan kemeriahaan dan luapan rasa syukur setelah enam hari menjalankan ibadah sunah puasa syawal sejak H+2 Lebaran.
"Ada satu balon udara yang jatuh tepat di atas jaringan kabel listrik PLN di wilayah Durenan sehingga terjadi korsleting dan aliran energinya terputus beberapa saat," kata Kepala PLN Unit Pelayanan Jaringan Trenggalek, Tarwoko di Trenggalek, Jumat.
Meski sempat menyebabkan arus listrik terputus dan mengganggu perayaan Lebaran Ketupat di wilayah Durenan, Tarwoko memastikan insiden itu tidak sampai menimbulkan kerusakan berarti.
Petugas yang mendapat laporan dari warga tentang putusnya jaringan listrik di aerah itu segera melakukan langkah penanganan dengan menyingkirkan balon udara yang masih tersangkut di atas jaringan kabel PLN di jalan raya Durenan.
"Jaringan listrik di daerah itu sebenarnya masuk area UPJ Campurdarat, tapi sudah kami koordinasikan dan satu jam kemudian sudah kembali normal," ujarnya.
Sejak pagi selama perayaan Lebaran Ketupat di Trenggalek, total ada seribu balon udara yang dilepas warga secara sporadis di berbagai wilayah tersebut.
Banyaknya balon udara yang dilepas sempat memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko kebakaran di area hutan, ladang ataupun permukiman warga.
Kekhawatiran itu terutama mengacu pada pengalaman tahun sebelumnya pada momentum yang sama di mana sempat terjadi kebakaran hutan akibat balon udara yang jatuh di tengah hutan.
"Secara teori hal itu harusnya tidak akan terjadi karena balon udara masih akan melayang hingga api padam. Jadi balon tersebut jatuh dengan kondisi api sudah mati, sebab yang mengangkat balon itu adalah asap yang memenuhi ruang dalam balon," jelas panitia atraksi pelepasan 50 balon udara di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, Sunardi.
Seperti halnya saat perayaan Idul Fitri, pesta balon udara dimaksudkan untuk menciptakan kemeriahaan dan luapan rasa syukur setelah enam hari menjalankan ibadah sunah puasa syawal sejak H+2 Lebaran.
Arumi Bachsin galang dukungan para artis untuk dukung suaminya
Trenggalek - Artis pesinetron Arumi Bachsin berencana mendatangkan rekan-rekannya sesama selebriti untuk menggalang dukungan bagi suaminya pada Pilkada Trenggalek, Jawa Timur.
"Saya akan dengan senang hati mengajak teman-teman artis nasional untuk datang ke Trenggalek dan menggalang dukungan pemilih untuk pencalonan suami saya di Pilkada Trenggalek," janji Arumi Bachsin saat mendampingi suaminya, Emil Elestianto Dardak, menyerahkan berkas pendaftaran sebagai calon bupati ke KPU Trenggalek, Senin.
Ia tidak merinci nama-nama artis yang akan diajaknya nanti membantu kampanye suaminya pada Pilkada Trenggalek0.
"Tentu saja itu akan kami sampaikan kepada teman-teman artis yang bersedia membantu. Minimal saya akan mengajak mereka untuk sekadar jalan-jalan dan memperkenalkan Kabupaten Trenggalek berikut masyarakatnya yang ramah-ramah dan menyenangkan," ujarnya.
Pelibatan dan penggalangan artis nasional dalam skema kampanye di Pilkada Trenggalek disebut Arumi sebagai bagian dari komitmen dan totalitasnya dalam mendukung pencalonan suaminya.
Kendati saat ini tengah hamil enam bulan, Arumi menyatakan siap pindah menjadi warga Trenggalek.
"Dan saya sudah memulainya dengan beradaptasi dengan suasana di Trenggalek yang berudara adem, tenang, serta masyarakatnya yang ramah dan menyenangkan," kata Arumi yang sudah beberapa kali mendatangi Trenggalek.
Arumi selalu terlihat bersama Emil saat blusukan ke berbagai kelompok dan tokoh masyarakat di Trenggalek.
Area pencarian korban tenggelam pantai pelang Trenggalek diperluas
Trenggalek - Badan SAR Nasional akhirnya memperluas area pencarian dua wisatawan yang hilang terseret ombak laut selatan saat berwisata di Pantai Pelang, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Kamis (23/7).
"Hari ini (25/7), penyisiran kami lakukan mulai dari TKM (tempat kejadian musibah) di Pantai Pelang, hingga Pantai Konang, Pantai Joketro sampai berbatasan Pacitan, kalau ke tengah sampai 10 mil," kata Kepala Basarnas Pos Trenggalek, Supriono, di lokasi pencarian di Pentai Pelang, Sabtu.
Namun, hingga sore, jasad maupun tanda-tanda keberadaan korban belum ditemukan.
Ia mengatakan selama tiga hari melaksanakan pencarian tim SAR gabungan acapkali terkendala oleh tingginya ombak di kawasan Pantai Pelang yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Cuaca dan ketinggian ombak/gelombang yang tidak menguntungkan itu kemudian dapat disiasati dengan mengalihkan titik pencarian, yakni ke Pantai Joketro yang berada di dalam teluk.
"Kalau di Joketro relatif landai ombaknya, sehingga dua kapal bisa ke tengah," terangnya.
Dalam operasi kemanusiaan tersebut, tim SAR gabungan tidak hanya melakukan penelusuran di tengah laut, namun juga menyisir tebing-tebing dan karang yang ada di tepi pantai.
Tindakan itu dilakukan karena biasanya korban tenggelam terseret ombak menuju tepi dan tersangkut karang.
Dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Panggul, AKP Wajib Santoso mengatakan, selain operasi laut, pihaknya juga melakukan penyisiran darat di beberapa bibir pantai mulai dari Pelang hingga Joketro.
"Upaya terus kami lakukan, namun sampai sekarang belum membuahkan hasil," katanya.
Tim SAR gabungan rencananya melanjutkan pencarian hingga petang hari. Namun apabila kedua korban belum ditemukan, proses penyisiran akan dilanjutkan hingga tiga hari ke depan.
Sebelumnya dua wisatawan, masing-masing Mohammad Wahyu dan Gigih Wiranto, warga Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, hilang setelah terseret ombak laut, saat bermain di tepian Pantai Pelang.
"Hari ini (25/7), penyisiran kami lakukan mulai dari TKM (tempat kejadian musibah) di Pantai Pelang, hingga Pantai Konang, Pantai Joketro sampai berbatasan Pacitan, kalau ke tengah sampai 10 mil," kata Kepala Basarnas Pos Trenggalek, Supriono, di lokasi pencarian di Pentai Pelang, Sabtu.
Namun, hingga sore, jasad maupun tanda-tanda keberadaan korban belum ditemukan.
Ia mengatakan selama tiga hari melaksanakan pencarian tim SAR gabungan acapkali terkendala oleh tingginya ombak di kawasan Pantai Pelang yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Cuaca dan ketinggian ombak/gelombang yang tidak menguntungkan itu kemudian dapat disiasati dengan mengalihkan titik pencarian, yakni ke Pantai Joketro yang berada di dalam teluk.
"Kalau di Joketro relatif landai ombaknya, sehingga dua kapal bisa ke tengah," terangnya.
Dalam operasi kemanusiaan tersebut, tim SAR gabungan tidak hanya melakukan penelusuran di tengah laut, namun juga menyisir tebing-tebing dan karang yang ada di tepi pantai.
Tindakan itu dilakukan karena biasanya korban tenggelam terseret ombak menuju tepi dan tersangkut karang.
Dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Panggul, AKP Wajib Santoso mengatakan, selain operasi laut, pihaknya juga melakukan penyisiran darat di beberapa bibir pantai mulai dari Pelang hingga Joketro.
"Upaya terus kami lakukan, namun sampai sekarang belum membuahkan hasil," katanya.
Tim SAR gabungan rencananya melanjutkan pencarian hingga petang hari. Namun apabila kedua korban belum ditemukan, proses penyisiran akan dilanjutkan hingga tiga hari ke depan.
Sebelumnya dua wisatawan, masing-masing Mohammad Wahyu dan Gigih Wiranto, warga Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, hilang setelah terseret ombak laut, saat bermain di tepian Pantai Pelang.
Kekeringan di kabupaten Trenggalek semakin meluas
Trenggalek - Bencana kekeringan dampak badai elnino di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur ditengarai semakin meluas.
Berdasarkan pantauan, hal ini tampak dari semakin banyaknya sungai yang mengering, lahan pertanian kesulitan pasokan air tanah, hingga keterbatasan pasokan air bersih untuk konsumsi warga.
Salah satu daerah yang pelaing parah mengalami krisis air bersih dampak badai elnino terpantau di wilayah Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul.
Di wilayah pegunungan salah satu kawasan pesisir selatan Jawa Timur itu, ratusan warga harus mengantri untuk mendapat jatah air bersih dari dua sumur yang masih tersisa.
"Tapi kini kondisinya (air) juga keruh dan hampir habis. Itu karena banyak sekali yang mengambil air di sini," tutur Umar, salah seorang warga Desa Ngrencak yang ikut mengantri jatah air di sumur desa tersebut, Minggu.
Ia mengatakan, ada lebih dari 200 KK yang kini menggantungkan kebutuhan air bersih mereka dari kedua sumur desa itu.
Antrian biasanya terjadi pada pagi hari serta sore. Selain untuk konsumsi air minum, memasak serta untuk ternak, air yang mereka ambil juga digunakan untuk mandi dan cuci pakaian.
Namun itupun beberapa keperluan sekunder seperti air untuk cuci dan mandi sudah jauh berkurang mengingat minimnya pasokan air yang tersedia maupun bisa diambil dari kedua sumur desa tersebut.
"Kami berharap segera ada bantuan air bersih dari pemerintah daerah agar krisis air di desa kami tidak semakin parah," ujar Tumini, warga lainnya.
Lokasi pemukiman mereka memang tergolong terpencil. Berada di satu lingkungan Dusun Pucung, Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul, perkampungan yang mereka tinggali terletak di punggung sebuah perbukitan yang kering nan gersang, apalagi saat kemarau.
Sebagian besar warga sebenarnya telah memiliki sumur-sumur pribadi ataupun sumur bersama yang kemudian disalurkan menggunakan jaringan pipa/slang. Namun di saat kemarau, sumur-sumur yang ada selalu mengering akibat penurunan debit air tanah secara masif.
Hanya dua sumur desa yang masih mengeluarkan air, namun itupun jarak tempuh dari pemukiman mencapai lebih dari tiga kilometer sehingga untuk menjangkau warga harus berjalan kaki melalui jalan setapak.
"Hal seperti ini selalu terjadi saat kemarau. Kami khawatir musim tahun ini lebih panjang, karena itu berarti warga di sini bakal sangat menderita," ujar Umar.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mengungkapkan, saat ini ada sekitar 39 desa di di daerah itu yang diidentifikasi sebagai daerah rawan bencana kekeringan sebagai dampak badai elnino.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Trenggalek, Djoko Rusianto mengatakan, kekeringan terutama berdampak pada pasokan air tanah untuk lahan-lahan pertanian di daerah itu.
"Kekeringan memang masih menjadi ancaman, terutama ke sektor pertanian karena pasokan air diprediksi menyusut drastis," ujarnya.
Menurut Joko, apa yang terjadi saat ini merupakan siklus yang setiap saat bisa terjadi, sehingga pihaknya mengimbau warga agar mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, khususnya mengantisipasi wilayah-wilayah yang selama ini menjadi "langganan" (terdampak) bencana kekeringan.
Tahun ini (2015), ungkap Joko, sebenarnya jumlah area terdampak kekeringan di Trenggalek menurun atau lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu.
Jika pada 2014 jumlah desa yang dilada kekeringan mencapai 49 perkampungan, tahun ini jumlahnya menurun menjadi 39 desa.
Estimasi itu, menurut keterangan Joko, merupakan hasil dari rapat koordinasi di BPBD Jawa Timur beberapa waktu sebelumnya, mengingat ada beberapa wilayah yang hampir pasti tidak terkena lagi lantaran sudah ada pipanisasi.
Berdasarkan pantauan, hal ini tampak dari semakin banyaknya sungai yang mengering, lahan pertanian kesulitan pasokan air tanah, hingga keterbatasan pasokan air bersih untuk konsumsi warga.
Salah satu daerah yang pelaing parah mengalami krisis air bersih dampak badai elnino terpantau di wilayah Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul.
Di wilayah pegunungan salah satu kawasan pesisir selatan Jawa Timur itu, ratusan warga harus mengantri untuk mendapat jatah air bersih dari dua sumur yang masih tersisa.
"Tapi kini kondisinya (air) juga keruh dan hampir habis. Itu karena banyak sekali yang mengambil air di sini," tutur Umar, salah seorang warga Desa Ngrencak yang ikut mengantri jatah air di sumur desa tersebut, Minggu.
Ia mengatakan, ada lebih dari 200 KK yang kini menggantungkan kebutuhan air bersih mereka dari kedua sumur desa itu.
Antrian biasanya terjadi pada pagi hari serta sore. Selain untuk konsumsi air minum, memasak serta untuk ternak, air yang mereka ambil juga digunakan untuk mandi dan cuci pakaian.
Namun itupun beberapa keperluan sekunder seperti air untuk cuci dan mandi sudah jauh berkurang mengingat minimnya pasokan air yang tersedia maupun bisa diambil dari kedua sumur desa tersebut.
"Kami berharap segera ada bantuan air bersih dari pemerintah daerah agar krisis air di desa kami tidak semakin parah," ujar Tumini, warga lainnya.
Lokasi pemukiman mereka memang tergolong terpencil. Berada di satu lingkungan Dusun Pucung, Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul, perkampungan yang mereka tinggali terletak di punggung sebuah perbukitan yang kering nan gersang, apalagi saat kemarau.
Sebagian besar warga sebenarnya telah memiliki sumur-sumur pribadi ataupun sumur bersama yang kemudian disalurkan menggunakan jaringan pipa/slang. Namun di saat kemarau, sumur-sumur yang ada selalu mengering akibat penurunan debit air tanah secara masif.
Hanya dua sumur desa yang masih mengeluarkan air, namun itupun jarak tempuh dari pemukiman mencapai lebih dari tiga kilometer sehingga untuk menjangkau warga harus berjalan kaki melalui jalan setapak.
"Hal seperti ini selalu terjadi saat kemarau. Kami khawatir musim tahun ini lebih panjang, karena itu berarti warga di sini bakal sangat menderita," ujar Umar.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mengungkapkan, saat ini ada sekitar 39 desa di di daerah itu yang diidentifikasi sebagai daerah rawan bencana kekeringan sebagai dampak badai elnino.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Trenggalek, Djoko Rusianto mengatakan, kekeringan terutama berdampak pada pasokan air tanah untuk lahan-lahan pertanian di daerah itu.
"Kekeringan memang masih menjadi ancaman, terutama ke sektor pertanian karena pasokan air diprediksi menyusut drastis," ujarnya.
Menurut Joko, apa yang terjadi saat ini merupakan siklus yang setiap saat bisa terjadi, sehingga pihaknya mengimbau warga agar mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, khususnya mengantisipasi wilayah-wilayah yang selama ini menjadi "langganan" (terdampak) bencana kekeringan.
Tahun ini (2015), ungkap Joko, sebenarnya jumlah area terdampak kekeringan di Trenggalek menurun atau lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu.
Jika pada 2014 jumlah desa yang dilada kekeringan mencapai 49 perkampungan, tahun ini jumlahnya menurun menjadi 39 desa.
Estimasi itu, menurut keterangan Joko, merupakan hasil dari rapat koordinasi di BPBD Jawa Timur beberapa waktu sebelumnya, mengingat ada beberapa wilayah yang hampir pasti tidak terkena lagi lantaran sudah ada pipanisasi.
Wednesday, July 1, 2015
Menjelang Lebaran, Proyek Jalan 'Sirip' Trenggalek-Pacitan Dikebut
Trenggalek: Proyek pelebaran jalan 'sirip' nasional senilai Rp161 miliar yang menghubungkan Kabupaten Trenggalek dengan Kabupaten Pacitan di ruas Kecamatan Suruh hingga Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terus dikebut untuk mempermudah akses lalu-lintas menjelang Lebaran.
Saat ini, pembangunan masih terus berlangsung ke arah Kabupaten Pacitan dan tinggal menyisakan pekerjaan pengaspalan sekitar 10 kilometer. Total panjang jalan yang masuk perencanaan proyek senilai Rp161 miliar tersebut mencapai sekitar 28 kilometer.
"Saat ini, pembangunan jalan nasional Trenggalek-Pacitan telah mencapai 70 persen," jelas Lasminto. Kepala Urusan Tata Usaha
Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Batas Pacitan-Trenggalek-Tulungagung. Kendati proyek multiyears yang dimulai sejak 2013 tersebut diproyeksikan selesai 2015, ia memastikan pembangunan jalan sirip nasional yang tembus Jalur Lintas Selatan (JLS) di Kecamatan Panggul ini tetap akan dikebut.
Kontraktor pelaksana pekerjaan di jalur alternatif Trenggalek-Pacitan melalui Kecamatan Panggul-Sudimoro itu bahkan telah diminta mengerahkan seluruh armada dan tenaga kerja mereka guna memastikan pekerjaan cepat rampung.
"Dipercepat sebelum lalu lintas ramai oleh arus mudik ataupun aktivitas warga selama Ramadhan. Kami telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengantisipasi gangguan menjelang arus mudik maupun balik Lebaran," terangnya.
Lasminto mengatakan pihaknya menargetkan pekerjaan pelebaran, pengaspalan serta pembangunan infrastruktur penunjang di sepanjang jalan nasional tersebut bisa digenjot lagi. "Targetnya sebelum pekerjaan dihentikan sementara pada H-10 atau H-15
Lebaran, proyek pelebaran dan pengaspalan jalan nasional ini tinggal menyisakan sekitar enam (6) kilometer," kata Lasminto.
Pembangunan jalan nasional di jalur alternatif Trenggalek-Pacitan melalui Kecamatan Panggul dan Sudimoro mendapat apresiasi positif dari masyarakat, terutama dari kalangan pengguna jalan seperti pengendara sepeda motor, mobil maupun kendaraan berat lainnya.
Perbaikan dan peningkatan kualitas jalan oleh pemerintah dinilai membantu efektivitas perjalanan di jalur alternatif bergunung-gunung yang dulunya rusak parah tersebut.
Jika sebelum diperbaiki/dibangun waktu tempuh kendaraan dengan normal, jarak antara kota Trenggalek hingga Kecamatan Panggul membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam atau sekitar 180 menit. Kini, setelah pembangunan mencapai 70 persen dari total jalan yang
dipetbaiki sejauh 28 kilometer, waktu tempuh kendaraan roda empat lebih cepat sekitar 30-45 menit jika dibandingkan dengan sebelumnya.
Saat ini, pembangunan masih terus berlangsung ke arah Kabupaten Pacitan dan tinggal menyisakan pekerjaan pengaspalan sekitar 10 kilometer. Total panjang jalan yang masuk perencanaan proyek senilai Rp161 miliar tersebut mencapai sekitar 28 kilometer.
"Saat ini, pembangunan jalan nasional Trenggalek-Pacitan telah mencapai 70 persen," jelas Lasminto. Kepala Urusan Tata Usaha
Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Batas Pacitan-Trenggalek-Tulungagung. Kendati proyek multiyears yang dimulai sejak 2013 tersebut diproyeksikan selesai 2015, ia memastikan pembangunan jalan sirip nasional yang tembus Jalur Lintas Selatan (JLS) di Kecamatan Panggul ini tetap akan dikebut.
Kontraktor pelaksana pekerjaan di jalur alternatif Trenggalek-Pacitan melalui Kecamatan Panggul-Sudimoro itu bahkan telah diminta mengerahkan seluruh armada dan tenaga kerja mereka guna memastikan pekerjaan cepat rampung.
"Dipercepat sebelum lalu lintas ramai oleh arus mudik ataupun aktivitas warga selama Ramadhan. Kami telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengantisipasi gangguan menjelang arus mudik maupun balik Lebaran," terangnya.
Lasminto mengatakan pihaknya menargetkan pekerjaan pelebaran, pengaspalan serta pembangunan infrastruktur penunjang di sepanjang jalan nasional tersebut bisa digenjot lagi. "Targetnya sebelum pekerjaan dihentikan sementara pada H-10 atau H-15
Lebaran, proyek pelebaran dan pengaspalan jalan nasional ini tinggal menyisakan sekitar enam (6) kilometer," kata Lasminto.
Pembangunan jalan nasional di jalur alternatif Trenggalek-Pacitan melalui Kecamatan Panggul dan Sudimoro mendapat apresiasi positif dari masyarakat, terutama dari kalangan pengguna jalan seperti pengendara sepeda motor, mobil maupun kendaraan berat lainnya.
Perbaikan dan peningkatan kualitas jalan oleh pemerintah dinilai membantu efektivitas perjalanan di jalur alternatif bergunung-gunung yang dulunya rusak parah tersebut.
Jika sebelum diperbaiki/dibangun waktu tempuh kendaraan dengan normal, jarak antara kota Trenggalek hingga Kecamatan Panggul membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam atau sekitar 180 menit. Kini, setelah pembangunan mencapai 70 persen dari total jalan yang
dipetbaiki sejauh 28 kilometer, waktu tempuh kendaraan roda empat lebih cepat sekitar 30-45 menit jika dibandingkan dengan sebelumnya.
Menjelang Lebaran Kepolisian Resor Trenggalek dan Kediri disiagakan memberantas copet dan pelaku gendam
Trenggalek -Kepolisian Resor Trenggalek dan Kediri disiagakan memberantas copet dan pelaku gendam alias hipnotis yang marak menjelang lebaran. Masyarakat diminta menyimpan perhiasan dan uang lebih di rumah saat berbelanja di pasar.
“Sebisa mungkin jangan memakai perhiasan kalau ke pasar,” kata Kepala Kepolisian Resor Trenggalek Ajun Komisaris Besar I Made Agus Prasatya saat melakukan pemeriksaan keamanan di Pasar Pon Trenggalek, Rabu 24 Juni 2015.
Maraknya tindak kejahatan menjelang lebaran menjadi perhatian serius aparat kepolisian Trenggalek yang menerjunkan petugas di pasar tradisional dan toko emas. Para pelaku kejahatan kerap mengincar pembeli yang membawa perhiasan mencolok maupun tas jinjing.
Selain menerjunkan personel di tempat-tempat ramai, Agus juga mengingatkan langsung pengunjung pasar yang berpotensi menjadi korban pencopetan. Demikian pula para pedagang pasar diminta mengenali situasi di lingkungan mereka agar bisa mengidentifikasi kejangalan yang muncul.
Ketika menemukan orang asing yang gerak-geriknya mencurigakan mereka diminta melapor kepada polisi yang berjaga. “Biasanya yang marak aksi pencopetan,” kata Made.
Peningkatan keamanan juga dilakukan di kawasan pertokoan emas di Jalan Dewi Sartika. Jenis usaha ini paling banyak diincar pelaku kejahatan khususnya menjelang lebaran. Kepada pemilik toko, Agus meminta memasang CCTV untuk memantau pergerakan pengunjung. Khusus di tempat ini sejumlah polisi bersenjata lengkap disiagakan secara penuh.
Selain aksi copet di Trenggalek, pelaku gendam juga mulai beraksi di wilayah Kediri. Beberapa warga mengaku menjadi korban gendam yang mengincar perhiasan dan uang di jalan. Berbeda dengan aksi copet yang bisa diredam dengan menyimpan dompet rapat-rapat, aksi gendam lebih sulit ditangkal karena melibatkan alam sadar korban.
Sujinem, 60, warga Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto yang pernah menjadi korban gendam di atas angkutan umum. Dia masih bisa mengingat saat menjadi penumpang perempuan sendirian bersama kernet, sopir, dan seorang pria yang duduk di kursi penumpang.
“Setelah bersalaman, dia meminta saya melepas perhiasan dan menukarnya dengan bungkusan kain putih,” katanya yang baru menyadari setelah turun dari angkutan.
“Sebisa mungkin jangan memakai perhiasan kalau ke pasar,” kata Kepala Kepolisian Resor Trenggalek Ajun Komisaris Besar I Made Agus Prasatya saat melakukan pemeriksaan keamanan di Pasar Pon Trenggalek, Rabu 24 Juni 2015.
Maraknya tindak kejahatan menjelang lebaran menjadi perhatian serius aparat kepolisian Trenggalek yang menerjunkan petugas di pasar tradisional dan toko emas. Para pelaku kejahatan kerap mengincar pembeli yang membawa perhiasan mencolok maupun tas jinjing.
Selain menerjunkan personel di tempat-tempat ramai, Agus juga mengingatkan langsung pengunjung pasar yang berpotensi menjadi korban pencopetan. Demikian pula para pedagang pasar diminta mengenali situasi di lingkungan mereka agar bisa mengidentifikasi kejangalan yang muncul.
Ketika menemukan orang asing yang gerak-geriknya mencurigakan mereka diminta melapor kepada polisi yang berjaga. “Biasanya yang marak aksi pencopetan,” kata Made.
Peningkatan keamanan juga dilakukan di kawasan pertokoan emas di Jalan Dewi Sartika. Jenis usaha ini paling banyak diincar pelaku kejahatan khususnya menjelang lebaran. Kepada pemilik toko, Agus meminta memasang CCTV untuk memantau pergerakan pengunjung. Khusus di tempat ini sejumlah polisi bersenjata lengkap disiagakan secara penuh.
Selain aksi copet di Trenggalek, pelaku gendam juga mulai beraksi di wilayah Kediri. Beberapa warga mengaku menjadi korban gendam yang mengincar perhiasan dan uang di jalan. Berbeda dengan aksi copet yang bisa diredam dengan menyimpan dompet rapat-rapat, aksi gendam lebih sulit ditangkal karena melibatkan alam sadar korban.
Sujinem, 60, warga Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto yang pernah menjadi korban gendam di atas angkutan umum. Dia masih bisa mengingat saat menjadi penumpang perempuan sendirian bersama kernet, sopir, dan seorang pria yang duduk di kursi penumpang.
“Setelah bersalaman, dia meminta saya melepas perhiasan dan menukarnya dengan bungkusan kain putih,” katanya yang baru menyadari setelah turun dari angkutan.
Subscribe to:
Posts (Atom)






