Trenggalek - Salah satu SMK Kesehatan di Kabupaten Trenggalek, mewajibkan calon siswa baru menjalani tes urine, selain menyertakan nilai Ujian Nasional (NUN) sebagai persyaratan administratif.
"Ini baru pertama diberlakukan di sekolah kami, tujuannya jelas, yakni untuk menghindari ada siswa yang kecanduan narkoba," kata Waka Kurikulum SMK Kesehatan Brawijaya Husada, Hari Utomo, di Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu.
Dan apabila terbukti positif mengonsumsi narkoba, mengacu pada hasil tes urine, Hari memastikan calon siswa baru bersangkutan akan gugur.
"Penanganan lebih lanjut tentu diserahkan pada BNNK untuk ditindaklanjuti dengan pembinaan, rehabilitasi ataupun sebatas konseling. Kami hanya sebatas menyeleksi dan mencegah siswa yang pecandu narkoba," terangnya.
Agar hasil tes lebih akurat, lanjut Hari, SMK Kesehatan Bhayangkara Husada menggandeng Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Trenggalek.
"Kami sudah tes urine 100 calon siswa baru yang mendaftar. Semuanya wajib ikut tes tersebut karena ini kebijakan sekolah," tegasnya.
Dikatakan Hari, tes tersebut juga dimaksudkan untuk mendeteksi peredaran narkoba di tingkat pelajar sekolah menengah atas. Sebab, saat ini sudah banyak siswa yang terjerat kasus narkoba, baik sebagai pelaku maupun pemakai.
"Jadi untuk deteksi dini. Kalau nantinya siswa diketahui positif, akan diserahkan ke pihak berwajib karena ada tahapan tes lain sebelum dinyatakan pemakai narkoba," katanya.
Selain tes narkoba, calon peserta didik baru wajib menjalani tes mata, kejiwaan dan kesehatan dalam. Ketiga tes itu sudah diberlakukan pihak sekolah sejak awal, sedangkan tes urine narkoba baru kali pertama.
"Hasil tes masih negatif. Namun nantinya direncanakan ada tes lagi dengan tujuan agar siswa benar-benar sehat dan mampu berprestasi tanpa narkoba," jelasnya.
Tuesday, June 23, 2015
Friday, June 19, 2015
Cara Kapolres Trenggalek Agar Tetap Dekat Dengan Masyarakat
Trenggalek - Kapolres On Call 24 jam adalah program yang diusung AKBP Made Agus Prasatya begitu menjabat sebagai Kapolres Trenggalek. Agus tak ingin ada jarak antara dirinya dengan masyarakat.
Hal itu pulalah yang membuat Agus langsung sowan kepada semua tokoh masyarakat yang ada di Trenggalek begitu menjabat. Mulai dari tokoh agama, sesepuh, pemimpin ormas, orpol, LSM, hingga tokoh di pelosok kampung, tak lupa dikunjungi.
"Kunjungan kami ini sekaligus untuk kulo nuwun saya kepada masyarakat Trenggalek," ujar Agus kepada detikcom, Rabu (16/6/2015).
Agus mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk menggandeng mereka dalam rangka mewujudkan Trenggalek yang aman dan nyaman serta guyub dan tata tentrem. Dan Agus melakukan kegiatan itu secara non formal, tanpa ada sambutan resmi. Agus ingin agar kedatangan dan kedekatannya dengan masyarakat tidak bejarak.
"Kami juga masyarakat, sama seperti mereka. Hanya tugas kami saja yang membedakan," lanjut mantan Kasat Lantas Polrestabes Surabaya ini.
Kedekatan yang ingin dibangun dengan masyarakat, kata Agus, tidak lain untuk mendapatkan masukan secara langsung dari masyarakat Trenggalek yang dikenal dengan kripik tempenya itu. Masyarakat juga boleh mengkritik Agus bila ada kinerjanya dan anak buahnya ada yang tidak berkenan.
Kritik menurut Agus adalah sesuatu untuk merubah yang tidak bagus menjadi layak. Dan Agus ingin melakukannya dengan cara tidak berjarak dengan masyarakat.
"Laporkan saja apa yang ingin dilaporkan ke saya," ujar Agus.
Agus pun membagi nomor telepon pribadinya yang bisa dihubungi. Nomer itu adalah 081236989898. Namun untuk laporan, Agus menyarankan lebih baik melalui SMS saja.
"Kalau perlu kami yang akan menelepon nomor telepon yang masuk. Yang pasti kami siap melayani laporan masyarakat 24 jam," tandas Agus.
Hal itu pulalah yang membuat Agus langsung sowan kepada semua tokoh masyarakat yang ada di Trenggalek begitu menjabat. Mulai dari tokoh agama, sesepuh, pemimpin ormas, orpol, LSM, hingga tokoh di pelosok kampung, tak lupa dikunjungi.
"Kunjungan kami ini sekaligus untuk kulo nuwun saya kepada masyarakat Trenggalek," ujar Agus kepada detikcom, Rabu (16/6/2015).
Agus mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk menggandeng mereka dalam rangka mewujudkan Trenggalek yang aman dan nyaman serta guyub dan tata tentrem. Dan Agus melakukan kegiatan itu secara non formal, tanpa ada sambutan resmi. Agus ingin agar kedatangan dan kedekatannya dengan masyarakat tidak bejarak.
"Kami juga masyarakat, sama seperti mereka. Hanya tugas kami saja yang membedakan," lanjut mantan Kasat Lantas Polrestabes Surabaya ini.
Kedekatan yang ingin dibangun dengan masyarakat, kata Agus, tidak lain untuk mendapatkan masukan secara langsung dari masyarakat Trenggalek yang dikenal dengan kripik tempenya itu. Masyarakat juga boleh mengkritik Agus bila ada kinerjanya dan anak buahnya ada yang tidak berkenan.
Kritik menurut Agus adalah sesuatu untuk merubah yang tidak bagus menjadi layak. Dan Agus ingin melakukannya dengan cara tidak berjarak dengan masyarakat.
"Laporkan saja apa yang ingin dilaporkan ke saya," ujar Agus.
Agus pun membagi nomor telepon pribadinya yang bisa dihubungi. Nomer itu adalah 081236989898. Namun untuk laporan, Agus menyarankan lebih baik melalui SMS saja.
"Kalau perlu kami yang akan menelepon nomor telepon yang masuk. Yang pasti kami siap melayani laporan masyarakat 24 jam," tandas Agus.
Thursday, June 11, 2015
Bulog Tarik Raskin Berkutu
Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Tulungagung, Jawa Timur akhirnya mengganti enam karung beras untuk warga miskin (raskin) yang mengalami penurunan mutu sehingga ditemukan banyak kutu dan ulat di dalam karung berisi beras tersebut.
"Sudah kami ganti semua, kemarin (10/6). Prosedurnya, apabila memang ditemukan raskin yang rusak atau mengalami penurunan mutu, harus diganti dengan beras baru," terang Kepala Bulog Subdivre Tulungagung, Supriyanto dikonfirmasi Antara melalui telepon, Kamis.
Ia mengakui, enam karung berisi beras yang telah didistribusikan untuk warga miskin di Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek pada awal Juni tersebut, sudah mengalami penurunan mutu.
Namun, ia menegaskan secara umum kondisi beras masih layak konsumsi, karena fisik beras masih keras dan hanya sedikit berbau serta berkutu.
"Beras dikatakan rusak dan tidak layak konsumsi jika fisiknya saat dipegang sudah lembek atau langsung pecah. Ini kondisi beras masih keras, hanya sedikit berbau karena memang beras itu stok tahun 2014," jelasnya.
Untuk menghindari polemik di masyarakat, enam karung raskin ukuran masing-masing 15 kilogram yang telah siap edar di Balai Desa Ngadisuko kini ditarik kembali oleh Bulog.
Sebagai gantinya, Bulog memberikan enam karung beras stok 2015 dengan kualitas yang sama.
"Seluruh produk beras yang keluar dari gudang bulog, termasuk untuk raskin, semuanya telah melalui tim surveyor independen.
"Sudah kami ganti semua, kemarin (10/6). Prosedurnya, apabila memang ditemukan raskin yang rusak atau mengalami penurunan mutu, harus diganti dengan beras baru," terang Kepala Bulog Subdivre Tulungagung, Supriyanto dikonfirmasi Antara melalui telepon, Kamis.
Ia mengakui, enam karung berisi beras yang telah didistribusikan untuk warga miskin di Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek pada awal Juni tersebut, sudah mengalami penurunan mutu.
Namun, ia menegaskan secara umum kondisi beras masih layak konsumsi, karena fisik beras masih keras dan hanya sedikit berbau serta berkutu.
"Beras dikatakan rusak dan tidak layak konsumsi jika fisiknya saat dipegang sudah lembek atau langsung pecah. Ini kondisi beras masih keras, hanya sedikit berbau karena memang beras itu stok tahun 2014," jelasnya.
Untuk menghindari polemik di masyarakat, enam karung raskin ukuran masing-masing 15 kilogram yang telah siap edar di Balai Desa Ngadisuko kini ditarik kembali oleh Bulog.
Sebagai gantinya, Bulog memberikan enam karung beras stok 2015 dengan kualitas yang sama.
"Seluruh produk beras yang keluar dari gudang bulog, termasuk untuk raskin, semuanya telah melalui tim surveyor independen.
Jadi secara mutu dan kelayakan produk beras dari kami tidak masalah. Hanya memang kasus di Durenan itu mengalami penurunan mutu, tapi masih layak (konsumsi)," papar Supriyanto.
Terungkapnya produk raskin rusak atau mengalami penurunan mutu tersebut berawal dari inspeksi mendadak yang dilakukan sejumlah anggota DPRD Trenggalek yang mendapat laporan raskin berkutu dan tidak layak konsumsi di Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Senin (8/6).
Dalam sidak tersebut, dewan mendapati ada enam karung raskin yang dibiarkan di balai desa karena kondisi beras yang mudah hancur, berkutu dan mengandung ulat-ulat kecil.
Saat itu, Kades Ngadisuko, Nimas Anggi Chris Vallyandra mengkritisi pihak bulog agar lebih memperhatikan dan menjaga kualitas raskin yang akan didistribusikan ke masyarakat.
"Harus dijaga kualitasnya, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi," kritiknya.
Terungkapnya produk raskin rusak atau mengalami penurunan mutu tersebut berawal dari inspeksi mendadak yang dilakukan sejumlah anggota DPRD Trenggalek yang mendapat laporan raskin berkutu dan tidak layak konsumsi di Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Senin (8/6).
Dalam sidak tersebut, dewan mendapati ada enam karung raskin yang dibiarkan di balai desa karena kondisi beras yang mudah hancur, berkutu dan mengandung ulat-ulat kecil.
Saat itu, Kades Ngadisuko, Nimas Anggi Chris Vallyandra mengkritisi pihak bulog agar lebih memperhatikan dan menjaga kualitas raskin yang akan didistribusikan ke masyarakat.
"Harus dijaga kualitasnya, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi," kritiknya.
Tuesday, June 9, 2015
Arumi Bachin Siap Untuk Jadi Duta Wisata Trenggalek
TRENGGALEK - Arti Cantik Arumi Bachin siap menjadi bagian Trenggalek. Artis yang saat ini sebagai Duta Lingkungan Hidup Indonesia siap menjadi di Duta Wisata di Trenggalek.
Bahkan sebagai artis nasional, Arumi mengaku tidak canggung ketika berbicara soal Trenggalek dengan berbagai destinasi wisatanya. "Kalau ditunjuk saya siap. Saat ini saya Duta Lingkungan Hidup," ujar Arumi saat ditemui di Prigi Fest 2015, Pantai Prigi di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, baru-baru ini.
Di Trenggalek, saat tepatnya di sebelah Pantai Prigi terdapat Pabrik Tepung Ikan. Tentunya inilah yang harus digarap agar lebih banyak lagi potensi yang dikembangkan.
Menurut Istri dari Emil Dardak ini, potensi wisata harus dilakukan bersama-sama agar bisa bekerkembang.
Terlebih lagi saat ini era digital dan maraknya pengguna sosial media. Tentunya, tidak ada kesulitan untuk melakukan promosi wisata.
Hanya saja, perlu kemasan yang menarik sehingga wisata di Kabupaten Trenggalek ini berbeda dengan wisata di daerah lain teruatama yang ada di Jawa Timur.
Belum lagi dengan potensi Batik yang ada di Kabupaten Trenggalek. "Banyak sekali wisata disini dan merupakan keunggulan kabupaten Trenggalek. Saya sering ikut suami kesini dan akan tetap saya informasikan kepada teman-teman di Jakarta," tutupnya.
Tim BUSER Trenggalek Tembak NOVEL
TRENGGALEK - Tim buru sergap (Buser) Kepolisian Resor Trenggalek, Jawa Timur, menembak dua dari empat anggota komplotan perampok antarkota dalam penyergapan di Sidoarjo, Minggu 7 Juni 2015.
"Kami terpaksa melumpuhkan mereka, terutama dua pelaku utama sekaligus otak perampokan karena melawan petugas dan mencoba kabur," kata Kapolres Trenggalek AKBP Made Agus Prasetya di Trenggalek, Senin (8/6/2015).
Ia mengungkapkan, keempat anggota komplotan perampok bersenjata celurit dan linggis itu diidentifikasi sebagai kelompok Sidoarjo yang kerap menggunakan kekerasan di setiap aksinya. Mereka tidak hanya beraksi di wilayah hukum Trenggalek, namun juga pernah merampok di sejumlah daerah lain di Jawa Timur.
Berdasar hasil pemeriksaan polisi, lanjut Made, selain di Trenggalek, komplotan perampok yang diotaki oleh tersangka Novel Yonasta Bayasud (34) itu pernah merampok disertai kekerasan di wilayah hukum Banyuwangi, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Lamongan, Sidoarjo, Jember, serta Ponorogo.
Modus perampokan semua dilakukan dengan cara yang sama seperti halnya dilakukan kelompok Sidoarjo ini saat beraksi di rumah keluarga pengusaha Agus Widodo di Desa Nglongsor, Kecamatan Tugu, Trenggalek, 28 Mei 2015.
"Pelaku masuk rumah korban dengan cara mencongkel pintu gerbang dan pintu rumah menggunakan linggis. Begitu berhasil masuk, sebagian pelaku menyekap korban dengan cara mengalungkan celurit, sebagian lain menggasak harta benda yang ada di dalam rumah sasaran," terang Made.
Tidak dijelaskan apakah komplotan perampok asal Sidoarjo ini menggunakan jaringan lokal di setiap melakukan aksinya di kota berbeda.
Mantan Kasat Lantas Polrestabes Surabaya ini hanya mengisyaratkan bahwa Novel Cs selalu menyurvei calon sasarannya sebelum beraksi pada malam hari. "Kami juga masih menyelidiki apakah ada kemungkinan kelompok ini berkaitan dengan komplotan perampok lain, termasuk jaringan penadah barang curian/perampokan," ujarnya.
Sejak peristiwa perampokan disertai ancaman kekerasan di Desa Nglongsor, Kecamatan Tugu pada akhir Mei 2015, lanjut Made, keempat pelaku terus diburu tim buru sergap Polres Trenggalek.
Polisi berhasil mengidentifikasi dua dari empat pelaku yang ciri-cirinya berhasil digambarkan oleh korban, serta beberapa bukti petunjuk di lokasi perampokan.
Setelah hampir sepekan melakukan perburuan, tiga pelaku anggota kelompok Sidoarjo bernama Arif Tirtana (29) warga Surabaya, Didik Ariyanto (31) warga Gresik, dan Zainal Abidin (31), warga Sidoarjo berhasil dibekuk.
Dari tiga pelaku inilah tim buru sergap akhirnya berhasil menemukan lokasi persembunyian Novel yang diyakini sebagai otak perampokan di berbagai tempat itu.
"Atas kejahatan yang mereka lakukan, para tersangka dijerat Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara," kata Made.
Sunday, June 7, 2015
Trenggalek Mempunyai 1.850 Jenis Batu Mulia (Batu Akik)
Fenomena batu akik dalam beberapa tahun terakhir membawa dampak positif bagi masyarakat Trenggalek, Jawa Timur.
Dampak nilai ekonomi itu tidak hanya dirasakan para penambang, tapi juga para pengrajin batu mulia di Kabupaten yang terletak di posisir selatan pulau Jawa itu.
Mochammad Nur Arifin, seorang pengusaha muda, yang berhasil memompa semangat warga Trenggalek hingga di kampung-kampung untuk menangkap peluang tersebut.
"Saya tidak menyangka betapa dahsyatnya akik, hingga warga berduyun-duyun turun ke sungai untuk mengais batu mulia. Di sudut-sudut kampung mulai banyak orang membuka jasa perbaikan akik hingga penjual aksesoris batu mulia," ujarnya, kepada VIVA.co.id, usai membuka pameran batu akik di Stadion Trenggalek, Sabtu malam 6 Juni 2015.
Tekad Arifin untuk mendongkrak perekonomian warga melalui 'tren akik' ini, karena Trenggalek merupakan penghasil aneka ragam batu akik yang selama ini populer.
Hanya saja, dalam setiap pameran batu mulia itu tidak pernah dikenal batu asal Trenggalek.
"Saya pernah ke Rawa Bening, Jakarta, banyak batu asal Trenggalek tapi diakui dari daerah lain. Ini memprihatinkan," ungkapnya.
Dari diskusi dengan para pegiat batu akik, Arifin menemukan kesimpulan bahwa selama ini para pembeli tidak pernah membeli batu dari penambang, melainkan dari tengkulak.
Akhirnya mereka tidak mengerti jika selama ini batu batu itu sebenarnya berasal dari pelosok desa di Kabupaten Trenggalek.
"Saya berinisiatif untuk membentuk tim untuk memetakan potensi batu akik," katanya.
Dia menuturkan, akhirnya dari tim tersebut terbentuklah asosiasi perajin batu mulia Trenggalek (Asperbamut). Dari asosiasi ini kemudian terbit katalog batu akik khusus Trenggalek dan bisa mengikuti pameran-pameran batu di seluruh daerah di Jawa Timur.
"Ini momentum mempromosikan Trenggalek hingga di kancah nasional, bahkan internasional," harapnya.
Tidak hanya itu, Arifin juga pernah melibatkan seorang peneliti dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), untuk melakukan riset geologi di kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur itu sejak 1995.
Dalam riset tersebut, peneliti menemukan 1.850 jenis batu alam di Trenggalek.
"Ini bukti bahwa di Trenggalek, menyimpan potensi mineral yang luar biasa untuk dikembangkan," ujarnya.
Melalui festival batu akik yang sudah beberapa kali digelar itu, dia berharap, akan menggairahkan pasar batu mulia di Trenggalek, dan khususnya akan lebih menguatkan "brand" batu akik khas daerah pegunungan Pantai selatan Jawa itu.
Festival yang digelar hingga Minggu 7 Juni 2015 di area parkir Stadion Manak Sopal Trenggalek itu memamerkan beragam jenis batu akik khas Trenggalek dan daerah lain sekitar Trenggalek.
Selain batu akik, juga dijual dan dipamerkan bongkahan batu alam dengan berbagai jenis dan corak.
Adapun macam macam batu Trenggalek antara lain adalah kecubung karang, panca warna, badar lumut, badar besi, chalsedon, blue opal, lavender, wulung, amber, jasper, agate, onyx, jade, dan pirit.
Dampak nilai ekonomi itu tidak hanya dirasakan para penambang, tapi juga para pengrajin batu mulia di Kabupaten yang terletak di posisir selatan pulau Jawa itu.
Mochammad Nur Arifin, seorang pengusaha muda, yang berhasil memompa semangat warga Trenggalek hingga di kampung-kampung untuk menangkap peluang tersebut.
"Saya tidak menyangka betapa dahsyatnya akik, hingga warga berduyun-duyun turun ke sungai untuk mengais batu mulia. Di sudut-sudut kampung mulai banyak orang membuka jasa perbaikan akik hingga penjual aksesoris batu mulia," ujarnya, kepada VIVA.co.id, usai membuka pameran batu akik di Stadion Trenggalek, Sabtu malam 6 Juni 2015.
Tekad Arifin untuk mendongkrak perekonomian warga melalui 'tren akik' ini, karena Trenggalek merupakan penghasil aneka ragam batu akik yang selama ini populer.
Hanya saja, dalam setiap pameran batu mulia itu tidak pernah dikenal batu asal Trenggalek.
"Saya pernah ke Rawa Bening, Jakarta, banyak batu asal Trenggalek tapi diakui dari daerah lain. Ini memprihatinkan," ungkapnya.
Dari diskusi dengan para pegiat batu akik, Arifin menemukan kesimpulan bahwa selama ini para pembeli tidak pernah membeli batu dari penambang, melainkan dari tengkulak.
Akhirnya mereka tidak mengerti jika selama ini batu batu itu sebenarnya berasal dari pelosok desa di Kabupaten Trenggalek.
"Saya berinisiatif untuk membentuk tim untuk memetakan potensi batu akik," katanya.
Dia menuturkan, akhirnya dari tim tersebut terbentuklah asosiasi perajin batu mulia Trenggalek (Asperbamut). Dari asosiasi ini kemudian terbit katalog batu akik khusus Trenggalek dan bisa mengikuti pameran-pameran batu di seluruh daerah di Jawa Timur.
"Ini momentum mempromosikan Trenggalek hingga di kancah nasional, bahkan internasional," harapnya.
Tidak hanya itu, Arifin juga pernah melibatkan seorang peneliti dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), untuk melakukan riset geologi di kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur itu sejak 1995.
Dalam riset tersebut, peneliti menemukan 1.850 jenis batu alam di Trenggalek.
"Ini bukti bahwa di Trenggalek, menyimpan potensi mineral yang luar biasa untuk dikembangkan," ujarnya.
Melalui festival batu akik yang sudah beberapa kali digelar itu, dia berharap, akan menggairahkan pasar batu mulia di Trenggalek, dan khususnya akan lebih menguatkan "brand" batu akik khas daerah pegunungan Pantai selatan Jawa itu.
Festival yang digelar hingga Minggu 7 Juni 2015 di area parkir Stadion Manak Sopal Trenggalek itu memamerkan beragam jenis batu akik khas Trenggalek dan daerah lain sekitar Trenggalek.
Selain batu akik, juga dijual dan dipamerkan bongkahan batu alam dengan berbagai jenis dan corak.
Adapun macam macam batu Trenggalek antara lain adalah kecubung karang, panca warna, badar lumut, badar besi, chalsedon, blue opal, lavender, wulung, amber, jasper, agate, onyx, jade, dan pirit.
Saturday, June 6, 2015
Benda Peninggalan Majapahit beberapa ditemukan di Trenggalek
Benda purbakala terbuat dari emas koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri. Kepala BPCB Trowulan Aris Soviyani mengatakan, selain bentuknya yang unik dan langka, fungsi dari benda tersebut juga sangat istimewa dan bukan hanya sebagai hiasan.
“Rata-rata bentuknya sangat tipis seperti kertas, tapi terbuat dari emas,” kata Aris, Jumat, 5 Juni 2015. Ada 218 benda dari 60 jenis. Benda-benda tersebut merupakan hasil temuan selama 1977 hingga 2011 di seluruh wilayah Jawa Timur. Sebagian besar peninggalan masyarakat zaman Kerajaan Majapahit yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto. Namun ada juga yang diduga digunakan sebelum masa Majapahit.
Tim arkeolog BPCB Trowulan belum bisa memastikan apakah benda yang ditemukan di bekas pusat kota Kerajaan Majapahit di Trowulan tersebut dibuat di Trowulan atau dari daerah lain. “Kami belum tahu apakah dulu dibuat di Trowulan atau dari luar Mojokerto,” ujar Aris.
Benda-benda bersejarah dan tak ternilai harganya itu sempat diperlihatkan kepada wartawan. Benda-benda yang terbuat dari emas tersebut di antaranya cincin, tusuk sanggul, rantai untuk pinggang, selempang dada, serta miniatur dewa, hewan, dan bunga dalam mitologi Hindu dan Buddha. Selain benda dari emas, benda purbakala dari batu mulia juga ditemukan, seperti batu akik dan miniatur patung Buddha.
Miniatur hewan dari emas itu di antaranya bergambar kura-kura, naga, dan gajah. Sedangkan miniatur bunga dari emas yang juga jadi koleksi berharga adalah bunga teratai. “Bunga teratai dari emas dan miniatur patung Buddha ini ditemukan di Banyuwangi,” tutur Aris.
Dalam mitologi Hindu dan Buddha, bunga teratai melambangkan kesempurnaan hidup dengan kemurnian jiwa dan pikiran. Bunga teratai bisa muncul dari kolam yang kotor dan berlumpur tapi tidak tersentuh kotoran tersebut.
Temuan lain yang juga istimewa adalah pripih atau kotak dari batu yang biasa diletakkan di area candi. “Uniknya, pripih yang kami temukan di Trenggalek ini ditemukan di dinding candi sebelah barat dan berisi simbol sembilan dewa, yang di tengahnya terdapat Lingga Yoni dari emas,” ucap Aris. Padahal biasanya pripih terletak di dalam sumuran di tengah candi yang melambangkan keseimbangan alam.
Staf Kelompok Kerja Dokumentasi BPCB Trowulan, Rizki Susanti, mengatakan kebanyakan benda purbakala dari emas tersebut digunakan untuk keperluan ritual keagamaan, baik dalam agama Hindu maupun Buddha. “Misalnya selempang emas untuk di dada itu biasa digunakan dalam ritual keagamaan,” katanya.
“Rata-rata bentuknya sangat tipis seperti kertas, tapi terbuat dari emas,” kata Aris, Jumat, 5 Juni 2015. Ada 218 benda dari 60 jenis. Benda-benda tersebut merupakan hasil temuan selama 1977 hingga 2011 di seluruh wilayah Jawa Timur. Sebagian besar peninggalan masyarakat zaman Kerajaan Majapahit yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto. Namun ada juga yang diduga digunakan sebelum masa Majapahit.
Tim arkeolog BPCB Trowulan belum bisa memastikan apakah benda yang ditemukan di bekas pusat kota Kerajaan Majapahit di Trowulan tersebut dibuat di Trowulan atau dari daerah lain. “Kami belum tahu apakah dulu dibuat di Trowulan atau dari luar Mojokerto,” ujar Aris.
Benda-benda bersejarah dan tak ternilai harganya itu sempat diperlihatkan kepada wartawan. Benda-benda yang terbuat dari emas tersebut di antaranya cincin, tusuk sanggul, rantai untuk pinggang, selempang dada, serta miniatur dewa, hewan, dan bunga dalam mitologi Hindu dan Buddha. Selain benda dari emas, benda purbakala dari batu mulia juga ditemukan, seperti batu akik dan miniatur patung Buddha.
Miniatur hewan dari emas itu di antaranya bergambar kura-kura, naga, dan gajah. Sedangkan miniatur bunga dari emas yang juga jadi koleksi berharga adalah bunga teratai. “Bunga teratai dari emas dan miniatur patung Buddha ini ditemukan di Banyuwangi,” tutur Aris.
Dalam mitologi Hindu dan Buddha, bunga teratai melambangkan kesempurnaan hidup dengan kemurnian jiwa dan pikiran. Bunga teratai bisa muncul dari kolam yang kotor dan berlumpur tapi tidak tersentuh kotoran tersebut.
Temuan lain yang juga istimewa adalah pripih atau kotak dari batu yang biasa diletakkan di area candi. “Uniknya, pripih yang kami temukan di Trenggalek ini ditemukan di dinding candi sebelah barat dan berisi simbol sembilan dewa, yang di tengahnya terdapat Lingga Yoni dari emas,” ucap Aris. Padahal biasanya pripih terletak di dalam sumuran di tengah candi yang melambangkan keseimbangan alam.
Staf Kelompok Kerja Dokumentasi BPCB Trowulan, Rizki Susanti, mengatakan kebanyakan benda purbakala dari emas tersebut digunakan untuk keperluan ritual keagamaan, baik dalam agama Hindu maupun Buddha. “Misalnya selempang emas untuk di dada itu biasa digunakan dalam ritual keagamaan,” katanya.
Friday, June 5, 2015
GEMPA 5,1 skala Richter Guncang Trenggalek
Ilustrasi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 5,1 skala Richter, di barat daya Trenggalek Provinsi Jawa Timur, Jumat (5/6) pukul 23.38 WIB.
Menurut BMKG, seperti disampaikan Kepala Stasiun Geofisika Kotabumi, Lampung, Yuharman, pusat gempa ini berada pada koordinat Lintang 9.20 derajat Lintang Selatan (LS) dan Bujur 111.50 derajat Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 15 kilometer (km).
Lokasi gempa di daratan selatan Pulau Jawa; 116 km barat daya Trenggalek; 124 km tenggara Pacitan; 126 km barat daya Tulungagung Jatim; 200 km tenggara Yogyakarta; dan 619 km tenggara Jakarta.
BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan ancaman tsunami.
Sumber
Bawa SIM palsu, seorang sales di Trenggalek ditilang Polisi
ilustrasi
Seorang sales perusahaan swasta Andreas Eka Nugraha (24) tak bisa berkutik ketika terkena razia Satuan Lalu Lintas Polres Trenggalek, Jawa Timur. Sebab dari dirinya polisi mendapati sebuah SIM (surat izin mengemudi) yang diduga palsu.
Saat itu polisi tengah menggelar razia gabungan dalam rangka Operasi Patuh Semeru 2015 di jalan raya Tulungagung-Trenggalek di Desa Durenan, Rabu (3/6).
Kepemilikan SIM palsu ditemukan ketika petugas meminta kelengkapan surat berkendara dari warga Tulungagung itu.
Andreas yang mengendarai sepeda motor Yamaha MX sarat muatan barang dagangan menyerahkan dua SIM (SIM A dan SIM C) serta STNK kendaraan.
"Setelah kami periksa, ada kejanggalan pada SIM C yang ditunjukkan saudara Andreas ini karena nama kapolres yang tertera pada kartu (SIM) tidak sesuai dengan identitas pejabat saat itu," ungkap Kasat Lantas Polres Trenggalek, AKP Heru Sujio Budi Santoso, usai razia.
Dalam kartu identitas izin mengemudi itu, lanjut Heru, kejanggalan lain terlihat pada bahan kartu yang lebih lentur, tidak adanya hologram berwarna silver atau perak, kode regident, serta cap stempel yang lebih kecil dari aslinya.
Andreas yang mengaku tidak tahu jika salah satu SIM miliknya palsu, akhirnya digelandang ke Polres Trenggalek untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
"Kami akan selidiki dulu, dari mana dia mendapat SIM tersebut, apakah membuatnya sendiri atau ada orang lain yang melakukan. Kalau memproduksi sendiri, maka dia bisa dipastikan sebagai pelaku dan statusnya sangat mungkin dinaikkan menjadi tersangka. Sebaliknya jika bukan (pembuat, maka dia hanya sebagai korban," terang Heru.
Untuk memastikan, lanjut dia, barang bukti SIM yang diduga palsu akan dibawa ke perwakilan Puslabfor Mabes Polri di Polda Jatim.
Hasil analisa dari laboratorium forensik selanjutnya, akan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan jajaran Satlantas Trenggalek menindaklanjuti dugaan pemalsuan dokumen kelengkapan berlalu lintas tersebut.
"Jika memang terbukti palsu dan ada potensi pidananya, kasus ini otomatis akan dilimpahkan ke reskrim untuk ditindaklanjuti perkaranya. Kuat dugaan kasus ini (SIM palsu) tidak hanya satu, tapi banyak," tukas Heru.
Dikonfirmasi di lokasi digelarnya Operasi Patuh Semeru 2015 di jalan raya Durenan, Andreas mengaku kepada polisi jika SIM itu dibuat oleh seseorang yang baru dikenalnya saat nongkrong di sebuah warung kopi di Tulungagung.
"Saya lupa orangnya, yang pasti saat itu, sekitar tahun 2013, saya ditawari jasa pembuatan SIM secara kilat, sehari selesai. Karena butuh, saya menerima tawaran itu dengan menyerahkan fotokopi KTP dan uang jasa pembuatan Rp 250 ribu," tutur Andreas.
Namun, saat dikejar polisi mengenai identitas maupun alamat orang yang memberi jasa pembuatan SIM palsu itu, Andreas beralasan sudah lupa dan tidak pernah mengetahui identitas aslinya.
"Sudah lama sekali, saya lupa," jawabnya, seperti dikutip Antara.
Andreas mengaku hanya bisa pasrah dengan terungkapnya SIM palsu miliknya. Dia berdalih, selama ini tidak pernah tahu bahwa SIM C yang dibuat untuk kelengkapan syarat melamar kerjaan di bagian sales perusahaan swasta tempatnya bekerja saat ini, adalah produk palsu.
Selain satu kasus SIM palsu, operasi gabungan Patuh Semeru 2015 digelar jajaran Satlantas Polres Trenggalek bersama jajaran kejaksaan, pengadilan negeri, serta polisi militer tersebut juga berhasil mengungkap sedikitnya 47 pelanggaran.
Dari jumlah itu, 46 kasus pelanggaran yang didominasi karena ketiadaan SIM dan/atau STNK itu dilakukan sidang di tempat oleh tim kejaksaan dan perwakilan hakim PN Trenggalek.
Menurut Heru, operasi gabungan tersebut telah digelar sejak 27 Mei hingga 9 Juni, dengan tujuan menekan angka kecelakaan, pelanggaran, serta kemacetan lalu lintas.
"Operasi ini bagian dari persiapan menjelang digelarnya operasi ketupat menjelang mudik lebaran, sekitar akhir pertengahan Juli mendatang," terangnya.
Saat itu polisi tengah menggelar razia gabungan dalam rangka Operasi Patuh Semeru 2015 di jalan raya Tulungagung-Trenggalek di Desa Durenan, Rabu (3/6).
Kepemilikan SIM palsu ditemukan ketika petugas meminta kelengkapan surat berkendara dari warga Tulungagung itu.
Andreas yang mengendarai sepeda motor Yamaha MX sarat muatan barang dagangan menyerahkan dua SIM (SIM A dan SIM C) serta STNK kendaraan.
"Setelah kami periksa, ada kejanggalan pada SIM C yang ditunjukkan saudara Andreas ini karena nama kapolres yang tertera pada kartu (SIM) tidak sesuai dengan identitas pejabat saat itu," ungkap Kasat Lantas Polres Trenggalek, AKP Heru Sujio Budi Santoso, usai razia.
Dalam kartu identitas izin mengemudi itu, lanjut Heru, kejanggalan lain terlihat pada bahan kartu yang lebih lentur, tidak adanya hologram berwarna silver atau perak, kode regident, serta cap stempel yang lebih kecil dari aslinya.
Andreas yang mengaku tidak tahu jika salah satu SIM miliknya palsu, akhirnya digelandang ke Polres Trenggalek untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
"Kami akan selidiki dulu, dari mana dia mendapat SIM tersebut, apakah membuatnya sendiri atau ada orang lain yang melakukan. Kalau memproduksi sendiri, maka dia bisa dipastikan sebagai pelaku dan statusnya sangat mungkin dinaikkan menjadi tersangka. Sebaliknya jika bukan (pembuat, maka dia hanya sebagai korban," terang Heru.
Untuk memastikan, lanjut dia, barang bukti SIM yang diduga palsu akan dibawa ke perwakilan Puslabfor Mabes Polri di Polda Jatim.
Hasil analisa dari laboratorium forensik selanjutnya, akan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan jajaran Satlantas Trenggalek menindaklanjuti dugaan pemalsuan dokumen kelengkapan berlalu lintas tersebut.
"Jika memang terbukti palsu dan ada potensi pidananya, kasus ini otomatis akan dilimpahkan ke reskrim untuk ditindaklanjuti perkaranya. Kuat dugaan kasus ini (SIM palsu) tidak hanya satu, tapi banyak," tukas Heru.
Dikonfirmasi di lokasi digelarnya Operasi Patuh Semeru 2015 di jalan raya Durenan, Andreas mengaku kepada polisi jika SIM itu dibuat oleh seseorang yang baru dikenalnya saat nongkrong di sebuah warung kopi di Tulungagung.
"Saya lupa orangnya, yang pasti saat itu, sekitar tahun 2013, saya ditawari jasa pembuatan SIM secara kilat, sehari selesai. Karena butuh, saya menerima tawaran itu dengan menyerahkan fotokopi KTP dan uang jasa pembuatan Rp 250 ribu," tutur Andreas.
Namun, saat dikejar polisi mengenai identitas maupun alamat orang yang memberi jasa pembuatan SIM palsu itu, Andreas beralasan sudah lupa dan tidak pernah mengetahui identitas aslinya.
"Sudah lama sekali, saya lupa," jawabnya, seperti dikutip Antara.
Andreas mengaku hanya bisa pasrah dengan terungkapnya SIM palsu miliknya. Dia berdalih, selama ini tidak pernah tahu bahwa SIM C yang dibuat untuk kelengkapan syarat melamar kerjaan di bagian sales perusahaan swasta tempatnya bekerja saat ini, adalah produk palsu.
Selain satu kasus SIM palsu, operasi gabungan Patuh Semeru 2015 digelar jajaran Satlantas Polres Trenggalek bersama jajaran kejaksaan, pengadilan negeri, serta polisi militer tersebut juga berhasil mengungkap sedikitnya 47 pelanggaran.
Dari jumlah itu, 46 kasus pelanggaran yang didominasi karena ketiadaan SIM dan/atau STNK itu dilakukan sidang di tempat oleh tim kejaksaan dan perwakilan hakim PN Trenggalek.
Menurut Heru, operasi gabungan tersebut telah digelar sejak 27 Mei hingga 9 Juni, dengan tujuan menekan angka kecelakaan, pelanggaran, serta kemacetan lalu lintas.
"Operasi ini bagian dari persiapan menjelang digelarnya operasi ketupat menjelang mudik lebaran, sekitar akhir pertengahan Juli mendatang," terangnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)







