Wednesday, July 1, 2015

Menjelang Lebaran, Proyek Jalan 'Sirip' Trenggalek-Pacitan Dikebut

Trenggalek: Proyek pelebaran jalan 'sirip' nasional senilai Rp161 miliar yang menghubungkan Kabupaten Trenggalek dengan Kabupaten Pacitan di ruas Kecamatan Suruh hingga Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terus dikebut untuk mempermudah akses lalu-lintas menjelang Lebaran.

Saat ini, pembangunan masih terus berlangsung ke arah Kabupaten Pacitan dan tinggal menyisakan pekerjaan pengaspalan sekitar 10 kilometer. Total panjang jalan yang masuk perencanaan proyek senilai Rp161 miliar tersebut mencapai sekitar 28 kilometer.

"Saat ini, pembangunan jalan nasional Trenggalek-Pacitan telah mencapai 70 persen," jelas Lasminto. Kepala Urusan Tata Usaha
Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Batas Pacitan-Trenggalek-Tulungagung. Kendati proyek multiyears yang dimulai sejak 2013 tersebut diproyeksikan selesai 2015, ia memastikan pembangunan jalan sirip nasional yang tembus Jalur Lintas Selatan  (JLS) di Kecamatan Panggul ini tetap akan dikebut.

Kontraktor pelaksana pekerjaan di jalur alternatif Trenggalek-Pacitan melalui Kecamatan Panggul-Sudimoro itu bahkan telah diminta mengerahkan seluruh armada dan tenaga kerja mereka guna memastikan pekerjaan cepat rampung.

"Dipercepat sebelum lalu lintas ramai oleh arus mudik ataupun aktivitas warga selama Ramadhan. Kami telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengantisipasi gangguan menjelang arus mudik maupun balik Lebaran," terangnya.

Lasminto mengatakan pihaknya menargetkan pekerjaan pelebaran, pengaspalan serta pembangunan infrastruktur penunjang di sepanjang jalan nasional tersebut bisa digenjot lagi. "Targetnya sebelum pekerjaan dihentikan sementara pada H-10 atau H-15
Lebaran, proyek pelebaran dan pengaspalan jalan nasional ini tinggal menyisakan sekitar enam (6) kilometer," kata Lasminto.

Pembangunan jalan nasional di jalur alternatif Trenggalek-Pacitan melalui Kecamatan Panggul dan Sudimoro mendapat apresiasi positif dari masyarakat, terutama dari kalangan pengguna jalan seperti pengendara sepeda motor, mobil maupun kendaraan berat lainnya.

Perbaikan dan peningkatan kualitas jalan oleh pemerintah dinilai membantu efektivitas perjalanan di jalur alternatif bergunung-gunung yang dulunya rusak parah tersebut.

Jika sebelum diperbaiki/dibangun waktu tempuh kendaraan dengan normal, jarak antara kota Trenggalek hingga Kecamatan Panggul membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam atau sekitar 180 menit. Kini, setelah pembangunan mencapai 70 persen dari total jalan yang
dipetbaiki sejauh 28 kilometer, waktu tempuh kendaraan roda empat lebih cepat sekitar 30-45 menit jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Menjelang Lebaran Kepolisian Resor Trenggalek dan Kediri disiagakan memberantas copet dan pelaku gendam

Trenggalek -Kepolisian Resor Trenggalek dan Kediri disiagakan memberantas copet dan pelaku gendam alias hipnotis yang marak menjelang lebaran. Masyarakat diminta menyimpan perhiasan dan uang lebih di rumah saat berbelanja di pasar.

“Sebisa mungkin jangan memakai perhiasan kalau ke pasar,” kata Kepala Kepolisian Resor Trenggalek Ajun Komisaris Besar I Made Agus Prasatya saat melakukan pemeriksaan keamanan di Pasar Pon Trenggalek, Rabu 24 Juni 2015.

Maraknya tindak kejahatan menjelang lebaran menjadi perhatian serius aparat kepolisian Trenggalek yang menerjunkan petugas di pasar tradisional dan toko emas. Para pelaku kejahatan kerap mengincar pembeli yang membawa perhiasan mencolok maupun tas jinjing.

Selain menerjunkan personel di tempat-tempat ramai, Agus juga mengingatkan langsung pengunjung pasar yang berpotensi menjadi korban pencopetan. Demikian pula para pedagang pasar diminta mengenali situasi di lingkungan mereka agar bisa mengidentifikasi kejangalan yang muncul.

Ketika menemukan orang asing yang gerak-geriknya mencurigakan mereka diminta melapor kepada polisi yang berjaga. “Biasanya yang marak aksi pencopetan,” kata Made.

Peningkatan keamanan juga dilakukan di kawasan pertokoan emas di Jalan Dewi Sartika. Jenis usaha ini paling banyak diincar pelaku kejahatan khususnya menjelang lebaran.  Kepada pemilik toko, Agus meminta memasang CCTV untuk memantau pergerakan pengunjung. Khusus di tempat ini sejumlah polisi bersenjata lengkap disiagakan secara penuh.

Selain aksi copet di Trenggalek, pelaku gendam juga mulai beraksi di wilayah Kediri. Beberapa warga mengaku menjadi korban gendam yang mengincar perhiasan dan uang di jalan. Berbeda dengan aksi copet yang bisa diredam dengan menyimpan dompet rapat-rapat, aksi gendam lebih sulit ditangkal karena melibatkan alam sadar korban.

Sujinem, 60, warga Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto yang pernah menjadi korban gendam di atas angkutan umum. Dia masih bisa mengingat saat menjadi penumpang perempuan sendirian bersama kernet, sopir, dan seorang pria yang duduk di kursi penumpang.

“Setelah bersalaman, dia meminta saya melepas perhiasan dan menukarnya dengan bungkusan kain putih,” katanya yang baru menyadari setelah turun dari angkutan.

Polwan Cantik Di Trenggalek Jadi Guru Mengaji, Mau Ikut?

Trenggalek - Kepolisian Resor Trenggalek menerjunkan polisi wanita ke sejumlah masjid dan musala. Bukan untuk mencari pelaku teroris, tapi mengajar baca-tulis Al-Quran kepada anak-anak.

Berbeda ketika mengatur lalu lintas dan menilang pelanggar rambu dengan muka garang, para polwan dari Polres Trenggalek ini tampak ramah saat menyapa anak-anak di Masjid Darusallam, Kelurahan Ngantru, Trenggalek. Dengan tetap mengenakan seragam dinas dan penutup rambut atau jilbab, mereka begitu telaten mengeja huruf hijaiyah.

Setiap sore, masjid ini selalu menyelenggarakan pendidikan baca-tulis Al-Quran kepada anak-anak. Namun, sejak Ramadan pekan lalu, keberadaan para ustad di tempat itu digantikan polisi wanita sebagai pengajar.

“Awalnya anak-anak takut, mungkin karena masih mengenakan seragam polisi,” kata Ajun Komisaris Siti Munawaroh, koordinator polwan Polres Trenggalek.

Namun, dengan pendekatan yang ramah dan ceria, para polwan itu akhirnya bisa berbaur dengan anak-anak peserta mengaji. Meski tak menyandang predikat guru agama, kemampuan para polwan mengajarkan baca-tulis Al-Quran patut diacungi jempol. Gaya komunikasi mereka yang cair juga menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak untuk belajar. Terlebih tak sedikit anak-anak yang bercita-cita menjadi polisi.

Kegiatan mengaji ini dilakukan para polwan selepas mengikuti apel sore di Mapolres Trenggalek. Dengan membentuk kelompok tertentu, mereka menyebar ke sejumlah masjid, musala, TPA, dan pondok pesantren untuk mengajarkan baca-tulis Al-Quran.

Kelelahan akibat menjalankan ibadah puasa dan bertugas seharian tak membuat semangat para polwan surut dalam mengajar mengaji. Justru mereka merasa terhibur dan mendapat tantangan baru mengajar anak-anak. “Hitung-hitung nyari pahala puasa juga,” ujar Siti.

Sebagai anggota kepolisian, para polwan juga menyisipkan pesan-pesan keamanan kepada anak didik di sela pelajaran mengaji. Di antaranya mengenalkan cara memanfaatkan teknologi gadget dan Internet dengan benar agar tak terjerumus ke dunia pornografi. Dengan kemajuan teknologi saat ini, tingkat interaksi anak-anak dengan dunia maya cukup tinggi. Hal ini kerap memicu berbagai tindak kejahatan, dari pornografi hingga kenakalan remaja.

Para pengurus masjid pun menerima kehadiran para polwan dengan positif. Mereka merasa terbantu dengan peran polwan yang mengajarkan baca-tulis Al-Quran kepada anak-anak yang jumlahnya meningkat pada bulan puasa. “Biar mereka tidak bosan juga dengan ustad di sini,” tutur Ahmad Sobirin, salah satu pengurus Masjid Darusallam